Sore ini, aku akan bertemu
dengannya lagi setelah sekian lama aku tak bertemu dengan Filbert. Di sore yang
gelap gulita karena hujan, terasa
seperti sore yang penuh dengan warna. Saat aku sedang menyelusuri jalan untuk
kedepan rumah aku sudah melihat wajahnya yang begitu rupawan dan membuatku mulai
terpesona oleh senyumannya yang begitu menawan yang membuat hatiku meleleh. Dia
menyapaku dengan sepenggal kata saja “Sore,” aku hanya bisa membalasnya dengan
kalimat yang sama.
Aku persilahkan dia untuk masuk
kerumah, setelah berbincang-bincang cukup lama, tiba-tiba aku mendengar sepatah kalimat yang
keluar dari mulut manisnya, yang membuat hati ini bergejolak, “maafkan aku, ini semua bukan salahmu, tapi
aku sudah tidak bisa menjalani hubungan ini lagi, hubungan ini cukup sampai di
sini saja.” Aku hanya dapat termenung dengan kata-kata yang di ucapkannya
barusan, karena tak kuasa menahan, setetes
demi setetes air mataku mulai berjatuhan. Dia berusaha untuk menenangkanku,
tapi apa daya hati ini sudah terlanjur tergores luka. Filbert hanya dapat
mengatakan sepenggal kata kepadaku “maaf” hanya kata itu yang keluar dari mulut
manisnya. Sebelum dia meninggalkan aku, dia memberikan pelukan kepadaku untuk
yang terakhir kalinya, rasanya aku tak kuasa untuk menerima semua ini. Bagiku hari
ini seperti mimpi burukku.
